Postingan

Saatnya Bernyanyi... - Tangga, Tak Kemana-Mana

awal cerita yang selalu bahagia adalah skenario yang ditawarkan cinta namun hanya Tuhan yang tau Kemana perjalanan ini kan bermuara nantinya… *** kita sedang bahagia jangan buang waktu menerka nerka akhir nya tenang aku disini selama kau disisi aku bejanji  tak ke mana mana mungkin saja esok mungkin saja lusa mungkin saja dunia sekejab jadi berbeda perasaan dan segenap cinta yang kau dan yang aku punya Kan tetap sama . . . - Tangga - Tak Kemana-Mana "Untuk kebahagiaan lain yang kan segera ku jelang. Jangan sia-kan bersama semua ketakutan tentang esok lainnya yang hanya terkaan belaka. Nikmati saja.. Syukuri ini dulu. Alhamdulillah Rabb... ^_^ "

Tanpa Judul

Ketika hanya ingin menulis. Walau hanya satu kata yang dapat tertuang. Mewakili suasana hati.

Waktu ku

Rasanya ingin menangis sore ini.. Ketika semua yang sempat terlupa kembali lagi menghantui ku. Ini tentang waktu, dan semua yang pasti bersangkut paut dengannya. Ahhh.. bukankah hidup kita memang hanya tentang bagaimana kita menghabiskan waktu-waktu itu?? Maka rasanya ingin menangis sore ini.. Mungkin penyesalan, mungkin ketidak sanggupan, mungkin keputus asaan.. Ya.. semuanya buat ku ingin menangisi waktu, tentang yang tersia-siakan, tentang yang tak termanfaatkan dengan sempurna.. dan tentang yang akan datang yang amat kutakuti..

Aku dan Kamu (Yang ada di ujung sana)

Gambar
Kamu.. Iya kamu yang berada di ujung sana. Yang mungkin juga sedang menantiku dalam tanda tanya. Tunggulah aku dalam kesabaran utuh mu. Hingga tiba saatnya kita saling menatap. Tatapan pertama kita dalam proses yang akan membawa kita pada satu masa yang akan mengantarkan kita pada satu kata itu. Barokah. Ya, barokah yang mejadi tujuan utama kita nantinya saat kita sama-sama menyampaikan niat kita, tak adalagi yang lebih indah dari Barokah yang Allah anugerahkan untuk kebersamaan yang telah kita nantikan ini. Dimana rindu tiap malamnya menemani kesepian malam kita. Dimana airmata tiap tetesnya menjadi saksi kita. Dimana untaian kata dalam doa menjadi pengikat kita. Hingga masa itu datang. Aku dan.. Kamu.. Iya kamu yang berada di ujung sana. Yang sedang tersenyum tulus dalam keikhlasan penantiannya, menanti satu masa bersama..  Aku. Iya aku yang disini Yang sedang mempersiapkan diri menyambut kedatangan mu, dengan semua keterba...

Mereka Yang Kucintai

Gambar
Karena mereka yang selalu menguatkan aku. Yang menerima semua kesalahan, mengingatkan ketika salah langkah, menyemangati ketika lelah, memarahi ketika khilaf, memeluk ketika rindu, menopang kaki pabila lemah. Yang tawa, senyum dan airmata nya selalu menyertakan aku. Yang diam nya mendoakan aku. Mereka yang aku cintai… Keluargaku.. Semoga Allah mengumpulakn kami dalam surgaNya kelak, Bersama orang-orang yang kami cintai..

Dua Puluh Tiga

Dua Puluh Tiga Satu lagi angka yang bertambah. Satu lagi masa yang harus dilewati. Satu lagi momen yang tak boleh disiakan. Satu lagi kesempatan yang di berikan. Dua Puluh Tiga, menjadi satu angka dimana evaluasi harus dilakukan secara sunguh-sungguh, apalgi ketika melihat cheklist Konsesus di dua puluh dua. Rasanya malu beuuuutttt. Tak lebih dari 35% nya saja yang tercapai. Sisanya, tersia-siakan begitu saja. Walau memang ada beberapa prestasi yang memang diraih tanpa pernah ada di list tersebut siih.. Tapi tetap saja, kurang dari 35% bukan lah suatu prestasi. Itu adalah nilai yang aku berikan untuk diriku sendiri. itu adalah nilai atas kerjaku selama satu tahun kebelakang. Itu adalah apa yang sudah aku usahakan, energi yang telah aku keluarkan, dan kontribusi yang aku berikan. Merah, merah semerah-merahnya rapot aku itu. Jelek sejelek jeleknya nilai atas kerjaku selama ini. Tapi memang sebanding tentunya dengan semua yang udah aku lakuin. L Dan Dua Pu...

Terus Berlari

Adakah seseorang yang begitu banyak berlari selain aku?? Bukan, ini bukan tentang kegiatan menyegarkan badan itu apalagi persiapan menghadapi kejuaraan lomba lari. Tapi berlari dari semua masalah hidup yang sedang menerpa. Karna rasanya sudah terlalu sering aku berlari tanpa berani menghadapinya. Sampai saat ini, ketika lagi-lagi di hadapi pada sebuah ujian berat yang menimpa keluargaku, khusunya aku. Yang terlintas di benakku hanya tentang berlari, menghindar untuk bisa menghadapinya. Berharap semua berakhir dengan sebuah keajaiban. Hanya Dengan Jentikan jari, tring. Hidupku menjadi lebih baik setelahnya. Berlari dari masalah. Nampaknya itu semua sudah menjadi profesi ahliku saat ini. Bukan bangga, hanya saja menjadi lebih pemberani untuk menghadapinya pun aku belum bisa. Kadang akupun bertanya kenapa aku seperti ini. Begitu lemah tanpa daya. Bahkan saking lemahnya dan saking aku terus menghindari dari apapun itu masalah yang ada, aku malah jadi mnegacuhkan semuanya. Seolah-o...