Dia yang Kehilangan Pesonanya..
Dulu aku tak peduli tentang
perasaan yang ada untuknya. Karena perasaan yang ada itu melebihi dari sebuah
pengakuan dan kata-kata.
Pastinya semuanya adalah cinta. Melebihi
semua cinta yang pernah kurasakan. Ia tumbuh seiring dengan tumbuhnya semua sel
dalam diriku.
Tapi kini, aku tak tahu apa yang
terjadi padaku. Perasaan itu Nampak asing kini. Bahkan cenderung berubah dan
makin parah. Aku tak lagi meyukainya. Menyukai apapun tentang dia. Apa yang dia
lakukakan, katakan, kenakan, usahakan, semuanya menjadi salah bagiku.
Aku membencinya. Dan menyadari
aku membencinya makin membuat aku membencinya karena ia yang membuat aku begitu
membencinya.
Tapi aku tahu, aku takkan sanggup
jika ia benar-benar meninggalkanku. Aku hidup karena dia ada. Aku punya cerita dengannya
sepanjang usiaku. Dia pernah menjadi orang yang aku kagumi, aku idolakan. Aku mencintainya.
Dan dia mencintaiku. Dia ada dalam do’aku, dan aku ada lebih banyak dalam do’anya.
Tapi aku membencinya. Menyadari kalau
dalam diriku ada dia, membuatku muak pada itu semua. Menyadari kalau aku begitu
mirip dengan dia, membuat aku ingin menyalahkannya. Menyalahakan atas ke tidak mampuan
yang dia lakukan yang juga tidak mampu aku lakukan. menyalahkan atas tindak
tanduknya dengan sejuta teorinya, yang juga hamper begitu mirip denganku. Aku muak,
muak atas semua itu.
Pesonanya kini hilang dimataku,
ketika perlahan aku menuntut banyak darinya tapi yang kudapatkan justru ia
menunjukan semua ke tidak sangupannya dalam banyak hal. Semua yang pernah dia
lakukan tak lagi ada dalam benak ku. Berganti ke tak pedulianku akan usahanya
kini untuk mengulangi masa kejayaannya, tapi malah membuatnya semakin tak
berarti bagiku. Karena ia bukan lagi ia yang dulu.
Aku kehilangan sosok ideal
darinya. Atau tepatnya aku tak lagi melihatnya sebagai sosok itu.
Aku tak tau apa yang terjadi padaku.
yang aku tahu, banyak hal yang terjadi padanya hingga dia kini menjadi sosok
seperti itu.
Harusnya aku memakluminya..
memaklumi perubahan darinya. Tapi mungkin aku tak siap atas perubahannya yang
mendadak. Atas perubahannya yang drastis. Hingga aku menolak semua itu, dan
beralih membencinya.
Kini, aku berharap, perasaan ini
tak kan lebih parah lagi. Tak kan menjadi sebuah momok bagiku ataupun baginya. Aku
berharap semuanya akan menjadi lebih baik lagi. Walau aku tak tahu cara apa yang
harus aku lakukan, untuk menghadapiku yang memiliki perasaan ini. Dan cara apa
yang harus aku lakukan untuk menghadapinya yang sekarang ini.
Ooohhh… dia telah mencoba begitu
keras padahal.. harusnya aku menyadari itu dan bisa membuat semua ini lebih
baik.
Komentar
Posting Komentar